Home Opini ASI vs Susu Buatan, Perkembangan Masalahnya yang Cukup Rumit

ASI vs Susu Buatan, Perkembangan Masalahnya yang Cukup Rumit

23
0
Perkembangan dari Kontroversi ASI vs Susu Formula
Perkembangan dari Kontroversi ASI vs Susu Formula

Sejak pertengahan dasawarsa tujuh puluhan, masyarakat luas dari segala lapisan, kebanyakan dari mereka di Amerika Utara dan Eropa, ikut serta dalam suatu debat umum yang dikenal sebagai kontroversi formula susu bayi. Kontroversi ini memperoleh dukungan yang terbesar dari gerakan konsumen lapisan bawah di Amerika Utara dan dampaknya masih terasa di kalangan industri, pemerintah dan kelompok-kelompok aksi warga masyarakat di seluruh dunia. Sejarah yang paling terkenal tentang kontroversi itu adalah karya Chetley, The Politics of Baby Foods (1986). Di sini saya menemukan perkembangan kontroversi itu, menyoroti titik-titik pusat dari gerakan sosial. Suatu penyajian persoalan itu mula-mula dapat ditemukan pada suatu pidato di suatu Rotary Club yang tidak terkenal yang disampaikan oleh Dr. Cicely Williams di Singapura tahun 1939 dengan judul Milk and Murder (Susu dan Pembunuhan). Wanita itu menganjurkan barangkali tanpa mendapat perhatian bahwa meningkatnya angka orang sakit dan angka kematian pada bayi-bayi di Singapura secara langsung disebabkan oleh meningkatnya pemberian susu botol kepada bayi sebagai pengganti ASI yang tidak tepat dan karena menurunnya jumlah ibu yang menyusui anaknya (Williams 1986). Walaupun keadaan di kota-kota lain dari negara-negara berkembang mungkin sama atau lebih buruk dari Singapura, suara-suara yang memperingatkan dan mencela masih raguragu, terpisah-pisah dan masih mudah dianggap sepi. Sekali-sekali, ada laporan dari para anggota misi dan para pekerja di bidang kesehatan yang membenarkan terdapatnya akibat-akibat yang sangat buruk dari per-ubahan ini terhadap angka penyakit dan kematian bayi.

Sejak tahun tiga puluhan promosi susu sebagai pengganti ASI terus meningkat, khususnya di pasaran perkotaan negara-negara berkembang. Di Amerika Utara, persaingan antara perusahaan farmasi Amerika dan ke-adaan depresi telah mengurangi jumlah perusahaan-perusahaan yang mem-produksi formula susu bayi menjadi tiga perusahaan besar Abbott (Ross), Bristol-Myers (Mead-Johnson) dan American Home Products (Wyeth). Perusahaan-perusahaan seperti Nestle sudah memproduksi susu bayi sebe-lum pergantian abad ini. Perusahaan makanan dan obat-obatan yang mem-produksi formula susu bayi memperluas pasaran mereka ketika terjadi peningkatan angka kelahiran sesudah Perang Dunia II, ketika menyusukan bayi turun menjadi separuhnya antara tahun 1946 dan 1956 ‘di Amerika, turun menjadi 25 persen menurut catatan rumah sakit dalam tahun 1967 (Minshin 1985: 216). Sekitar waktu itu, angka kelahiran di negara-negara industri telah turun, dan perusahaan-perusahaan mencari pasaran baru di kota-kota yang melakukan modernisasi dengan cepatnya di negara-negara yang sedang berkembang.

Ketika majalah-majalah perindustrian melaporkan terjadinya “Kabar Buruk di Dunia bayi” (Bad News in Babyland) di Amerika Utara, penjualan mereka di negara-negara berkembang malah meningkat dengan mendapat kecaman-kecaman yang datang secara terpisah dan hanya sekali-sekali dari para ahli kesehatan dan perkumpulan-perkumpulan konsumen. Sebuah kalimat dalam suatu pidato telah menarik perhatian para pendengar yang jauh lebih luas. Dalam tahun 1968 Dr. Derrick Jelliffe menamakan hasil promosi komersial dari pemberian susu buatan untuk bayi sebagai “kurang gizi karena komersialisasi”.

Sekitar pertengahan dasawarsa tahun tujuh puluhan, penerbitan-pener-bitan seperti New Internationalist (1973) menyajikan persoalan ini untuk menarik perhatian masyarakat. Laporan-laporan seperti karya Muller The Baby Killer ( 1974 ) dan terjemahan dalam bahasa Jerman dari laporan ber-judul Nestle Kills Babies segera mendapat reaksi dari produsen-produsen formula susu bayi. Dalam tahun 1974, Nestle mengajukan tuntutan ganti rugi sebesar lima juta dolar di suatu pengadilan negeri Swiss terhadap Kelompok Aksi Dunia Ketiga (Third World Action Group) di Jerman un-tuk penerjemahan mereka dari Nestle Kills Babies yang mengakibatkan suatu pemeriksaan di pengadilan yang tersiar dengan luas. Walaupun hakim berpendapat bahwa para anggota dari kelompok itu bersalah telah mencemarkan nama baik orang dan mendenda mereka dengan suatu jumlah tertentu, namun dia dengan jelas mengakui secara umum tingkah laku Nestle yang tidak bermoral dan tidak etis dalam mempromosikan produkproduk mereka.

Tuntutan ganti rugi karena mencemarkan nama orang lain dan tulisan-tulisan pers yang sensasional itu memberikan keterangan inti yang lambat-laun mempengaruhi pendapat umum, yang memperkuat usaha-usaha para ahli kesehatan untuk menciptakan garis-garis kebijaksanaan tentang susu/ makanan bayi, melalui kelompok-kelompok Persatuan Bangsa-Bangsa, seperti misalnya Kelompok Penasehat Protein-Kalori. Di Amerika Utara, kelompok-kelompok penasehat yang dibentuk mengenai persoalan tersebut yang paling terkenal adalah Interfaith Center for Corporate Responsibility (ICCR), Infant Formula Action Coalition (INFACT) dan International Baby Food Action (IBFAN). Dibentuk tahun 1974, ICCR, memonitor perusahaan-perusahaan multinasional, mereka memberi informasi kepada kelompok-kelompok gereja tentang investasi perusahaan yang bertanggung jawab, dan menyiarkan peristiwa-peristiwa seperti tuntutan perkara yang dimajukan oleh kumpulan Sisters of the Precious Blood terhadap Bristol-Meyers dalam tahun 1976 karena memperdaya para peme-gang saham tentang cara pemasaran mereka.

Walaupun perkara itu ditolak oleh pengadilan, tetapi ia telah membantu menyebarkan lebih banyak informasi tentang pemasaran dari bahan pengganti ASI kepada kelompok-kelompok yang mempunyai perhatian terhadap persoalan-persoalan perkembangan dan keadilan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here