Home Info Ibu dan Keadaanya Ketika Menyusui

Ibu dan Keadaanya Ketika Menyusui

21
0
Bagaimana keadaan seorang ibu sesungguhnya ketika menyusui
Bagaimana keadaan seorang ibu sesungguhnya ketika menyusui

Ingatan ibu saya tentang menyusui bayi semuanya bersifat negatif. Ceritera-ceritera tentang puting susu yang berdarah, tapal-tapal yang panas, kain yang melilit dada, payudara yang bengkak dan bernanah, serta bau busuk, dipertentangkan dengan ceritera kepahlawanan yang gagah berani di zaman perang (yang mungkin dilebih-lebihkan) dalam usaha mendapatkan persediaan ransumyang cukup untuk membuat formula rumit, yang terbuat dari susu merek “Farmer’s Wife” yang dikentalkan, sirup jagung dan susu yang diasamkan untuk saya. Percobaan-percobaan menyusui — semua gagal hampir membunuh ibu saya, menurut ceritera ibu. Saya jarang memikirkan tentang menyusui bayi sampai saya hamil. Saya tak yakin pernah melihat lebih dari satu atau dua orang ibu yang menyusui anaknya selama hidup saya. Tetapi waktunya telah tiba untuk melakukan eksperimen. Saya sekolah di suatu kota yang jauh dari rumah, Midwest, di mana kelas untuk mengajarkan kelahiran bayi, menggendong anak, La Leche League, dan yogurt serta granola merupakan ukuran. Setelah mengikuti pelajaran prenatal dan mengikuti sebuah pertemuan La Leche League, dalam waktu 2 jam saya melihat penyusuan bayi lebih banyak daripada yang saya saksikan seumur hidup, maka saya memutukan untuk menyusui bayi saya. Seingat saya, pertimbangan finansiallah yang menjadi pikiran saya. Saya hampir membenci tanggung jawab yang berakar pada para ibu menyusui yang terikat pada rumah tangga mereka yang saya temui. Chandra telah lahir pada permulaan bulan September, dalam minggu sebelum kuliah dimulai dan tiga bulan sebelum ujian doktoral saya direncanakan. Bagaimanapun, saya memutuskan untuk menyusui bayi saya tanpa memikirkan bagaimana mengatur persiapan untuk ujian dan memelihara bayi. Ibu saya, yang tinggal bersama kami selama bulan pertama, amat membantu dalam hal mengasuh bayi tetapi ibu tidak dapat memberikan saran tentang menyusui bayi: sesungguhnya saya kira beliau sangat merasa kasihan bahwa saya harus memulai tugas yang menyakitkan itu.

Selama beberapa minggu pertama saya memerlukan bantuan dari para ibu menyusui yang sudah berpengalaman, tentang persoalan pengaturan secara umum (dan untuk mencegah ibu yang telah menerima paket hadiah rumah sakit berisi Similac yang siap pakai, suatu produk yang sangat me – ngesankan bagi beliau).

Setelah beberapa bulan, perasaan saya makin tersentuh oleh penyusuan bayi dan merasakannya sebagai bagian yang paling menyenangkan dari kesibukan rutin yang sangat padat, berisi tugas belajar, mengajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Saya selingi penyusuan bayi jika perlu dengan memberikan susu buatan dengan botol, tanpa akibat yang tidak baik terhadap ibu dan bayi. Saya meragukan, apakah saya akan dapat menyusui bayi dan mengikuti kuliah serta Iulus dari sekolah tinggi, andaikata saya tidak sekali-sekali menggunakan susu botol sebagai penggantinya. Saya ingat bahwa saya tetap memakai Similac, merek susu dalam paket rumah sakit itu. Seorang dokter spesialis anak yang biasanya mendukung pemberian ASI, mengikuti perkembangan Chandra dengan penuh perhatian, khususnya karena Chandra tidak menderita penyakit alergi bawaan keluarga kami. Karena kami merencanakan untuk melakukan pekerjaan lapangan di Thailand, saya terus menyusui Chandra selama enam belas bulan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan baginya (dan bagi kami) dalam melakukan perjalanan internasional di Asia dengan persediaan air bersih yang tidak menentu dan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di Bangkok dan kehidupan di pedesaan Thailand.

Mungkin saya merasa puas telah dapat mengurangi kesulitan hidup de-ngan cara menyusui bayi, tetapi saya masih merasa tidak enak dengan sebagian besar dari kata-kata retorik dari mereka yang pro dengan pemberian ASI kepada bayi, sementara saya tidak mengetahui berapa besar pengaruhnya atas keputusan saya di zaman pemberian susu botol ini.

Implikasi-implikasi yang lebih luas tentang pemberian ASI kepada bayi di za man pemberian susu botol ini telah meyakinkan saya di Thailand, dalam tahun 1973, ketika seorang dokter spesialis anak Thailand mendesak saya agar menggunakan beberapa contoh dari Lactogen untuk bayi saya, yang kira-kira berumur tiga belas bulan, yang makan sejumlah besar makanan Thailand sebagai tambahan ASI yang saya berikan. Ia terserang penyakit diare setelah meminum susu full cream selama beberapa hari. Dokter itu menyalahkan ASI sebagai penyebab diare anak saya, dan me-nasehatkan saya untuk segera menghentikan menyusui bayi dan menyarankan untuk mulai memberikan Lactogen dalam botol. Pengalaman ini, digabung dengan hubungan saya yangbertambah banyak dengan wanita-wanita profesional di Bangkok yang berpendapat bahwa menyusui bayi itu sesuatu yang menjijikkan, menjadikan saya sadar akan perubahan pendapat yang cepat terhadap pemberian air susu kepada bayi di Thailand, yang kemudian saya kembangkan dalam tulisan-tulisan saya mengenai hal ini (Van Esterik 1977, 1982).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here