Home Tips Kampanye Pemberian Susu Ibu selalu Mengundang Perhatian

Kampanye Pemberian Susu Ibu selalu Mengundang Perhatian

17
0
Apa pun yang dilakukan untuk menunjang pemberian ASI selalu menarik
Apa pun yang dilakukan untuk menunjang pemberian ASI selalu menarik

Sumbangan paling besar dari artikel ini terletak dalam penyajian pandangan baru mengenai sebuah kontroversi lama. Penulisnya benar-benar telah melangkah lebih jauh di balik argumen pro dan kontra mengenai susu formula dan menggunakan sebagian besar dari kata-katanya untuk membahas soal pemberian makan kepada bayi dalam kaitannya dengan pemberian wewenang kepada kaum wanita, soal medikalisasi persoalan ini, serta dengan melihat bahan pangan untuk bayi sebagai barang komoditi dagang.

Ia juga memakai kontrovetsi ini sebagai batu loneatan untuk memikirkan berbagai dilema besar dalam gagasan serta tindakan kaum feminis: dengan ketepatan seorang dokter bedah ia dapat memotong-motong peralatan yang dipakai oleh para dokter dan tenaga profesional lain di bidang kesehatan (yang terlalu sering dibantu oleh perusahaan industri) yang mau membawa soal pemberian makan kepada bayi ke suatu wilayah khusus dan membuat kegiatan keibuan biasa berubah menjadi suatu persoalan medis. Dengan jelas ia pun dapat menggambarkan bagaimana baik makanan bayi (air susu ibu atau susu formula) maupun prasarananya (payudara ibu dan botol susu) telah menjadi barang komoditi yang dipromosikan, dipasarkan dan diambil manfaatnya, sebagaimana halnya barang dagangan lain di pasaran.

Bab terakhir dalam artikel ini membahas tentang hubungan yang penting antara masalah lingkungan, pemberian wewenang kepada kaum wanita, medikalisasi kehidupan, komoditisasi pangan dan lingkungan kemiskinan. Tentu saja, kesimpulannya ialah bahwa kita harus berupaya lebih keras memperbaiki keadaan-keadaan yang mempengaruhi kehidupan wanita, daripada mengarahkan upaya kita terutama pada pengambilan keputusan tentang makanan bayi. Perlu diciptakan kondisi yang memungkinkan penyusuan bayi oleh ibu, diinginkan, dinficmati serta berhasil di semua lingkungan masyarakat. Agar dapat mencapai situasi yang sedikit banyak dikhayalkan ini, diperlukan perubahan penting secara internasional, seringkali juga secara nasional dalam kondisi ekonomi, sosial dan politik seka rang ini.

Hampir dua puluh lima tahun lalu, saya menulis:

“Apa pun yang dapat dilakukan untuk menunjang pemberian ASI, adalah menarik. Air susu ibu merupakan minuman kaya protein yang sangat penting artinya. Dengan cara bagaimanapun, kita tak boleh membiarkan penyusuan bayi ini lenyap, apakah itu melalui periklanan, penciptaan suasana seakan-akan menyusui bayi mengandung prosedur yang rumit, ataupun melalui pembentukan sejenis sikap budaya mengenai dada wanita yang dikem – bangkan di dalam masyarakat. Sangat diinginkan keadaan di mana penyusuan bayi tetap merupakan suatu prosedur alamiah yang wajar dan hal ini, saya yakin, lebih mudah tercapai di tempat-tempat di mana dada wanita tidak dijadikan suatu sumber misteri, sasaran rasa malu atau kebanggaan” (Latham: 1964).

Sebagaimana digambarkan dengan baik dalam artikel ini, sebenarnya kita telah memenangkan berbagai perjuangan. Suatu kemajuan besar telah dicapai, tetapi berakhirnya boikot terhadap Nestle dan bertambahnya jumlah ibu menyusui di kalangan orang berada di daerah Amerika Utara tidaklah menunjukkan tanda bahwa suatu kemenangan telah diraih. Dalam artikelnya, Robert Chambers (1977) dengan sangat bijaksana mengusulkan agar dalam membicarakan pembangunan daerah pedesaan, suatu langkah pertama yang penting bagi “para ahli sebagai orang yang menguasai ilmu pengetahuan, ialah turun dari tumpuannya, lalu duduk, mendengarkan dan menarik pelajaran”. Artikel ini akan membantu kita untuk berbuat demikian.

BAGI kebanyakan orang Amerika Utara, kontroversi di sekitar masalah susu buatan untuk bayi sudah selesai. Hal itu telah berakhir dengan dihentikannya boikot konsumen terhadap produk-produk Nestle bulan Oktober 1984, yang mengakhiri salah satu boikot konsumen yang sangat berhasil dalam sejarah. Sekarang, para sarjana menganjurkan kepada para ahli yang menaruh perhatian pada persoalan pemberian susu kepada bayi, agar mereka memperhatikan hal-hal di balik kontroversi ASI—susu ‘for-mula di negara-negara yang sedang berkembang yaitu kemiskinan, keti-dakberdayaan, kelaparan dan pembagian kekayaan yang tidak merata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here