Home Terkini Kedudukan Wanita Tunjukkan Kekuatan dalam Pemilihan Metode Pemberian Makan Anak

Kedudukan Wanita Tunjukkan Kekuatan dalam Pemilihan Metode Pemberian Makan Anak

37
0
Pilihan dalam pemberian susu kepada bayi ada kaitannya dengan kedudukan dan keadaan wanita
Pilihan dalam pemberian susu kepada bayi ada kaitannya dengan kedudukan dan keadaan wanita

Pada waktu ini telah terdapat khasanah bacaan yang sangat luas tentang topik pemberian susu kepada bayi. Ada beberapa karya akademis yang bagus, seperti misalnya artikel yang berjudul Human Milk in the Modern World (1978) karya Jelliffes; ada juga beberapa artikel menarik yang ditulis oleh para penganjur susu ibu yang handal, dan salah satu yang terbaik adalah The Politics ofBaby Food (1986) yang ditulis oleh Chetley. Di samping itu telah terbit beberapa artikel panduan yang menjelaskan “bagaimana cara …” mi-salnya yang berjudul The Womanly Art of Breastfeeding diterbitkan oleh La Leche League (1976). Namun, artikel baru yang bermutu ini, yang secara akademis tidak merupakan peninjauan ilmiah walaupun juga artikel ini berisi anjuran untuk memberikan air susu ibu sekaligus bersikap kritis terhadap perusahaan multinasional, juga menampilkan bentuk anjuran yang jauh lebih luas dibanding dengan penerbitan-penerbitan lain yang ada. Jelas, artikel ini juga bukan suatu panduan yang memberi petunjuk bagaimana memberi ASI dengan baik, sungguhpun di dalamnya terdapat pandanganpandangan baru tentang apa yang perlu dilakukan “untuk menciptakan suatu kondisi di mana pemberian ASI dimungkinkan, berjalan lancar dan dihargai di dalam suatu masyarakat tertentu”.

Artikel ini merupakan karya seorang sarjana. Penulisnya adalah seorang ahli antropologi, tetapi tidak berpaham ortodoks. Sementara ia mengambil cara pendekatan antropologis terhadap pokok persoalannya, ia tetap melangkah jauh melebihi cara berpikir antropologis dewasa ini. Sesungguhnya, ia bahkan merasa senang ketika ia mengecam rekan-rekannya yang mempunyai pendangan bahwa kontroversi tentang susu formula itu tak relevan sama sekali di bidang antropologi.

Sebagai seorang perempuan, tampaknya penulis artikel ini mempunyai keyakinan kuat bahwa “pilihan dalam pemberian susu kepada bayi ada kait-annya dengan kedudukan dan keadaan wanita, baik secara ideologis maupun ekOlogis dalam masyarakat yang berbeda-beda”. Dengan gigih ia mengemukakan bahwa pemberian susu kepada bayi merupakan masalah feminisme dan bahwa “adanya kontroversi ini dapat membantu kita untuk mengatasi dilema yang paling rumit melalui gagasan dan tindakan menurut paham feminisme”.

Penny Van Esterik adalah seorang penganjur pemberian ASI kepada bayi, dan ia menentang penggunaansusu formula yang tidak tepat. Dengan sikap keterusterangan yang luar biasa ia menceritakan kepada para pem-bacanya tentang pengalaman pribadinya dan pengaruh-pengaruh yang me-nyebabkan ia sendiri dibesarkan dengan susu botol menjadi seorang ibu yang menyusui bayinya dan menganjurkan pemberian ASI. Ia menyatakan bahwa “sebenarnya para ahli antropologi dapat meberikan sumbangan yang berarti untuk menganjurkan, karena seringkali mereka memiliki pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengadakan perubahan atau memantapkan keadaan”. Ia juga menyebutkan bahwa “masalahnya bukan terletak di pengetahuannya” tetapi bahwa orang masih diliputi keraguan untuk menggunakan apa yang telah diketahui demi perbaikan nasib kaum wanita.

Penulis artikel ini telah bekerja sama dengan saya selama empat tahun di Cornell University, sebagai ahli antropologi dalam suatu konsorsium dari tiga lembaga yang terlibat dalam suatu penelitian besar mengenai faktor menentukan yang terdapat dalam pemberian susu kepada bayi, dilakukan di empat negara yaitu Columbia, Kenya, Thailand dan Indonesia. Dalam penelitian ini saya adalah ketua tim. Penny Van Esterik telah memperluas jangkauan dari penelitian tersebut: ia telah membuka mata saya terhadap pan-dangan-pandangan baru dan dengan cara yang tak terhitungkan telah mem-perkaya pengertian kita mengenai pemberian susu kepada bayi di empat negara tersebut di atas.

Sumbangannya terhadap proyek ini sunggun tak ternilai. Pengalaman yang diperolehnya selama berada di empat kota, yaitu Bogota, Nairobi, Bangkok dan Semarang, sangat menunjang penerbitan artikel ini. Mungkin hanya seorang ahli etnografilah yang dapat memilih empat orang perempuan di antara sekitar lima ribu orang ibu untuk keperluan penelitian kita, dan kemudian dengan keterampilan tinggi dapat merangkum perihal kehidupan mereka dalam suatu rangkaian kata-kata sehingga terbentuk satu analisis yang menyajikan persoalan-persoalan rumit yang ada hubungannya dengan pertanyaan paling penting mengenai pembangunan dan kesinambungan upaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here