Home Terkini Keuntungan dan Risiko Penggunaan Bahan Kimia Pengawet Makanan

Keuntungan dan Risiko Penggunaan Bahan Kimia Pengawet Makanan

23
0
Pemakaian zat kimia untuk mengawetkan makanan
Pemakaian zat kimia untuk mengawetkan makanan

Di Indonesia pemakaian zat kimia untuk mengawetkan makanan diatur meJalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 10177/A/SK/74 yang dikeluarkan pada tanggal 28 Oktober 1974. Dalam peraturan tersebut ditetapkan 12 macam zat kimia yang dibenarkan untuk dipakai sebagai pengawet; zat kimia tersebut ialah:

1.            Belerang dioksida, dengan kadar maksimtun berkisar antara 70 sid 2.500 ppm.

2.            Metil p-hidroksibenzoat atau Nipagin M, dengan kadar maksimum antara 250 s/d 800 ppm.

3.            Propil p-hidroksibenzoat atau Nipasol, dengan kadar maksimum antara 250 sid 1.000 ppm.

4.            Asam benzoat (termasuk garam-garamnya) dengan kadar maksimum antara 160 s/d 1.000 ppm.

5.            Natrium nitrat, dengan kadar maksimum antara 100 s/d 500 ppm.

6.            Natrium nitrit dengan kadar maksimum antara 10 s/d 200 ppm.

7.            0-fenilfenol dengan kadar maksimum antara 10 s/d 70 ppm.

8.            Difenil, dengan kadar maksimum sekitar 100 ppm, untuk pengawetan jeruk segar.

9.            Tembaga carbonat dengan kadar maksimum sekitar 3 ppm, yang dipergunakan untuk pengawetan buah pir segar.

10.          Tetrasiklina, dengan kadar maksimum sekitar 5 ppm yang dipergunakan untuk pengawetan ikan segar,

11.          Asarn sorbat dengan kadar maksimum sekitar 5 ppm, yang dipergunakan untuk pengawetan tepung terigu, keju dan lain sebagainya yang sejenis ini.

12.          Asam Propionat dengan kadar maksimum antara 1.000 s/d 3.000 ppm.

Penyimpanan bahan makanan di rumah dapat dilakukan di lemari biasa atau di lemari es. Umumnya bahan makanan yang mudah rusak disimpan di lemari es. Untuk menyimpan bahan makanan di rumah, harus diperhatikan beberapa hal, yakni:

Disimpan dalam keadaan bersih; artinya telah dicuci dan dibersihkan dahulu.

b)            Jika dipergunakan lemari biasa, maka lemari        tersebut

harus mempunyai ventilasi yang cukup, misalnya dengan memasang kawat kasa di bagian belakang lemari,

c)            Tempat tersebut harus bebas dari debu, serangga dan tikus.

Ketika bahan makanan diolah di dapur, maka sanitasi dapur harus pula diperhatikan. Dapur yang memenuhi syarat-syarat kesehatan ialah:

a)            Selalu dalam keadaan bersih.

b)            Mempunyai cukup persediaan air bersih untuk mencuci.

c)            Mempunyai saluran pembuang air kotor.

d)            Mempunyai bak pencuci tangan dan alat-alat yang diperguna-kan.

e)            Mempunyai tempat sampah.

f)             Alat-alat dapur selalu dalam keadaan bersih.

g)            Mempunyai ventilasi yang cukup guna memasukkan udara segar serta mengeluarkan asap serta bau makanan yang kurang sedap.

h)            Mempunyai tempat penyimpan bahan makanan yang baik; artinya tidak sampai tercemar oleh debu, tidak menjadi sarang serangga atau tikus. ‘fidak meletakkan zat-zat yang berbahaya (misalnya insektisida) berdekatan dengan bumbu dapur.

j) Mempunyai alat pencegah kebakaran.

Pada saat ini cara untuk memasak makanan banyak macam-nya. Yang paling sederhana ialah dengan memakai kayu bakar, sebagaimana yang ditemukan di daera.h pedesaan di Indones-;a. Untuk ini jelaslah tersedianya ventilasi yang cukup sangat dibutubkan, karena lazimnya asap yang dihasilkan oleh kayu bakar cukup banyak. Pada banyak rumah tangga, terutama di kota, dipergunakan kompor minyak tanah. Sedangkan di negara-negara yang telah maju dipergunakan kompor listrik atau gas. Jika rnempPrgunakan gas harus selalu hati-hati dengan kemungkinan bocornya gas tersebut. Demikian puia halnya jika mempergunakaii gas cair vang dimusit di tabung-tibung,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here