Home Opini Kontroversi Susu Formula, Mengapa Begitu Menarik?

Kontroversi Susu Formula, Mengapa Begitu Menarik?

23
0
Daya tarik kontroversi susu bayi buatan
Daya tarik kontroversi susu bayi buatan

Daya tarik kontroversi susu bayi buatan disebabkan oleh kenyataan bahwa hal tersebut diajukan sebagai suatu persoalan yang sederhana, mudah diatasi, menuju ke satu titik pertemuan. Orang tertarik pada kampanye itu karena ia mengubah keprihatinannya yang tak dapat diucapkannya menjadi suatu contoh yang konkret dan jelas dari tingkah laku yang bersifat eksploitasi yang dapat dilawan. Menurut Schumacher (1977: 127), bertam-bah banyak orang mempelajari persoalan yang menuju ke satu titik, bertambah banyak jawaban-jawabannya menuju ke satu titik, walaupun beberapa persoalan mungkin tetap tak dapat dipecahkan saat ini, namun pada akhirnya akan dapat dipecahkan. Bagi banyak kelompok penganjur, persoalan susu bayi buatan merupakan persoalan yang menyatu. Jawaban atas kontroversi susu bayi buatan bagi perusahaan-perusahaan multinasional pembuat susu bayi buatan ialah menghentikan promosi susu bayi buatan di negara-negara yang sedang berkembang. Ketika perusahaan-perusahaan itu menyetujui untuk tunduk pada syarat-syarat Peraturan Pemasaran Pengganti ASI dari WHO/UNICEF yang telah dikeluarkan dalam tahun 1981 dan menyetujui beberapa syarat tambahan dari kelompok-kelompok penganjur, maka boikot itu dihentikan (Oktober 1984). Bagi banyak pendukung, hal ini merupakan berakhirnya kampanye itu suatu kemenangan dari organisasi-organisasi kecil tingkat bawah terhadap perusahaanperusahaan besar. Seperti juga persoalan-persoalan lainnya yang menjadi satu, ketika jawabannya telah didapat maka seluruh persoalan tidak lagi menarik perhatian.

Uraian Penelitian

Sejalan dengan kampanye penganjur untuk membatasi promosi pengganti ASI di negara-negara sedang berkembang, ialah beberapa proyek penelitian mengenai pemberian susu kepada bayi. Usaha-usaha penelitian ini direncanakan untuk menyediakan bukti yang lebih daripada apa yang bersifat anekdot dan klinis mengenai perubahan-perubahan dalam pola pemberian susu kepada bayi. Penelitian-penelitian itu direncanakan untuk mengukur pola pemberian susu kepada bayi, faktor-faktor yang menentukan dan akibat-akibatnya. Misalnya dalam tahun 1977, menyusul gugatan pencemaran nama oleh Nestle yang disiarkan secara luas itu, International Union of Nutrition Sciences (IUNS), mengadakan studi di Dar es Salaam (Tanzania), Colombo (Sri Langka) dan Sao Paulo (Brasil) untuk meneliti hambatan-hambatan terhadap pemberian ASI kepada bayi dan pemasaran makanan bayi. Suatu kerja sama untuk mengadakan studi yang lebih besar tentang pemberian ASI kepada bayi dilakukan oleh WHO di Chili, Ethiopia, Guatemala, India, Nigeria, Filipina, Zaire, Hongaria dan Swedia (WHO 1981). Studi-studi ini menyediakan statistik deskriptif mengenai pola pemberian susu kepada bayi dalam keadaan sosial ekonomi yang berbeda dan membenarkan besarnya pemasaran makanan yang diproses secara industri. Penelitian Kesuburan Dunia (World Fertility Surveys) yang berpusat di London juga berisi informasi tentang pemberian ASI kepada bayi. Penelitian-penelitian ini, sebagai tambahan dari studi tiap negara tentang pemberian susu kepada bayi, mengesankan bahwa walaupun tidak ada kekurangan dari informasi tentang pemberian susu kepada bayi di negara-negara berkembang, terdapat perbedaan yang besar mengenai cara menginterpretasikan data itu. Penelitian yang telah dikum-pulkan tentang pemberian susu kepada bayi dibiayai oleh lembaga-lem-baga, badan-badan perkembangan multilateral dan bilateral, lembaga-lem-baga penelitian dan perusahaan-perusahaan yang membuat formula susu bayi.

Menyusul dengar pendapat di Kongres oleh Senator Edward Kennedy mengenai promosi susu bayi buatan, United States Agency for Interna-tional Development (USAID) meminta agar usul-usul dianjurkan untuk mempelajari faktor-faktor yang menentukan dari pemberian susu kepada bayi di negara-negara yang sedang berkembang. Kontrak itu diserahkan kepada suatu konsorsium dari universitas Cornell dan Columbia dan Dewan Kependudukan New York di bawah pimpinan Dr. Beverly Winikoff, Dr. Michael Latham, dan Dr. Giorgio Solimano. Pada tahun 1980, saya bergabung dengan tim interdisipliner tersebut sebagai antropolog dari Konsorsium.

Studi interdisipliner itu dilakukan bersama dengan tim-tim peneliti di empat negara Kenya, Kolombia, Thailand dan Indonesia dengan meng-gunakan beberapa metode penelitian yang berbeda-beda. Studi itu men-cakup suatu penelitian lintas sektoral dari pasangan ibu-anak dari daerah-daerah berpendapatan rendah dan menengah; 980 dari Nairobi (Kenya), 711 dari Bogota (Kolombia), 1422 dari Bangkok (Thailand) dan 1356 dari Semarang (Indonesia); substudi prasarana pemasaran dan kesehatan; etnografi masyarakat. Studi itu meneliti dampak yang luas dari faktor-faktor biologis, sosial, kultural dan ekonomis dari cara-cara memberikan susu kepada bayi. Etnografi masyarakat, walaupun secara singkat, memberikan dasar untuk memahami konteks kultural dari pemberian susu kepada bayi di beberapa rumah tangga dan lingkungan di setiap kota. Saya telah menggunakan beberapa hasil studi untuk ikut menjelaskan uraian-uraian dalam artikel ini. Statistik-statistik yang digunakan berasal dari penelitian lintas sektoral itu. Studi-studi tentang kealiaan seberiarnya yang dikembangkan dalam Bab II didasarkan pada etnografi masyarakat itu. Setelah penelitian-penelitian selesai, suatu lokakarya untuk para pembuat kebijaksanaan diadakan untuk meninjau kembali hasil-hasil penelitian itu dan memberikan rekomendasi untuk memperbaiki pemberian susu kepada bayi di setiap negara itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here