Home Info Malnutrisi Memiliki Masalah yang Lebih Rumit dari Kelihatannya

Malnutrisi Memiliki Masalah yang Lebih Rumit dari Kelihatannya

21
0
Masalah malnutrisi atau kurang gizi lebih jauh
Masalah malnutrisi atau kurang gizi lebih jauh

SEBAGAIMANA halnya LapK dan Collins (1977) dalam artikel berjudul Food First dan George (1976) dalam How the Other Half Dies telah mengupas soal malnutrisi atau kurang gizi lebih jauh daripada hanya soal asam amino atau bahan gizi lain, dengan mendalami penyebab dari kekurangan gizi itu yang terjadi dalam lingkungan pertanian yang produktif, maka dalam artikel ini Penny Van Esterik memperluas masalah kontroversi sekitar pemberian air susu ibu dan susu formula ke persoalan yang berhubungan dengan kemiskinan, pemberian wewenang pada kaum wanita, medikalisasi dari pemberian susu bayi, serta komoditisasi makanan anak. Artikel ini me-nampilkan suatu studi kasus yang tidak saja amat bijaksana, tetapi sekaligus merupakan sebuah tonggak sejarah dalam khasanah bacaan kita tentang pembangunan.

Bahwa air susu ibu (ASI) merupakan satu-satunya jenis pangan, atau cairan yang perlu diminum oleh anak manusia dalam waktu empat sampai enam bulan pertama kehidupannya, kini telah diterima secara luas. Hal ini tidak lagi diperdebatkan oleh dokter anak, para eksekutif dari perusahaan-perusahaan multinasional ataupun oleh para penganjur yang mendukung pemberian ASI. Tetapi sesungguhnya, tak selalu demikian halnya di masa silam. Selama hampir satu generasi penuh pada tahun-tahun setelah Perang Dunia II, bayi-bayi di Amerika Serikat tak pernah disusui ibu mereka.

Artikel ini merupakan sebuah artikel yang amat penting artinya. Penulisnya telah mengangkat satu topik yang telah banyak ditulis orang, dan memandangnya dari seperangkat sudut pandangan baru yang orisinal; dengan penglihatan yang tanggap ia telah memperluas lingkup perdebatan dan menempatkannya dalam konteks pembangunan yang berkesinambung. Artikel ini seharusnya menjadi amat perlu dan menyenangkan untuk dibaca oleh kalangan luas perorangan, termasuk mereka yang menaruh perhatian terhadap soal pembangunan di daerah perkotaan dan pedesaan di negara-negara non-industrial di Selatan: para ahli dan ilmuwan berbagai bidang, termasuk kesehatan, sosiologi, antropologi dan ekonomi pembangunan; para wanita yang sedang menjajaki masalah perbedaan kelamin dan faham feminisme; para industrialis dan ahli pemasaran bidang pangan yang terlibat dalam makanan buatan pabrik bagi bayi dan anak kecil, dan akhirnya juga mereka, orang-orang biasa yang menaruh minat terhadap cara terbaik untuk membesarkan anak.

Pada tahun 1965 saya pernah menulis seperti di bawah ini:

“Sangat menyedihkan untuk melihat betapa pemujaan terhadap susu botol juga telah mempengaruhi orang di Afrika. Tentu saja yang perlu dipersalahkan untuk ini ialah masyarakat pendatang (imigran). Apa saja yang mereka perbuat seringkali dipandang hebat, jika tidak dikatakan sangat superior. Tetapi sementara itu perusahaan-perusahaan dagang tidaklah lambat untuk menyadari bahwa sikap ini dapat dijadikan sumber uang bagi mereka. Iklanildan telah menunjukkan “betapa mudah dan baik” memberi minum bayi dengan produk ini dan itu. Padahal sebenarnya, bagi sebagian besar orang Afrika, hal itu sangat rumit sekaligus sangat buruk akibatnya. Sesungguhnya, bagi mereka pemberian susu formula sama dengan menandatangani surat kematian bagi sejumlah besar bayi. Pemerintahan negara bersangkutan seharusnya berpikir serius terlebih dulu untuk mengijinkan jenis ildan seperti ini dan melarangnya. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa ASI merupakan minuman terbaik bagi seorang bayi. Diperkirakan bahwa di Tanzania produksi air susu ibu per tahun sekitar 36.500.000 galon. Susu sapi dalam jumlah yang sama akan mencapai harga 9 juta pound sterling atau 40 juta dolar Amerika (Latham 1965).

Dua dasawarsa kemudian saya mengemukakan gagasan sebagai berikut: “Di antara berbagai faktor yang menyebabkan makin banyaknya diberikan susu formula kepada bayi di negara-negara sedang berkembang, terdapat dua faktor yang sifatnya amat penting, dan keduanya termasuk dalam hal yang mengalami perubahan. Yang pertama ialah adanya promosi susu buatan sebagai pengganti ASI yang disebarkan oleh para produsennya, terutama perusahaan-perusahaan multinasional. Yang kedua ialah kegagalan bidang profesi kesehatan dalam menganjurkan, melindungi dan mendorong pemberian ASI. Kini terdapat begitu banyak bukti tentang keuntungan kesehatan yang dapat diperoleh dari penyusuan bayi oleh ibu, terutama dengan berkurangnya tingkat kesakitan atau morbiditas dan kematian atau motalitas bayi, jika dibandingkan dengan bayi-bayi yang diberi minum susu formula. Dan salah satu kerugian besar yang selama ini kurang diperhatikan dalam hal pemberian susu formula adalah konsekuensi ekonomi yang serius yang harus dipikul oleh keluarga dan bangsa-bangsa yang miskin. Bagaimanapun, sangat disayangkan bahwa penggunaan susu formula di banyak negara berkembang di Selatan terus saja makin bertambah ….” (Latham 1988).

Apa yang sebenarnya dapat dijadikan pelajaran dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, yaitu waktu yang terpaut antara penulisan dua buah artikel tersebut di atas? Apakah kita memang telah mencapai suatu kemaj uan? Dalam artikel ini, penulis telah memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan penting seperti disebutkan di atas. Dia dapat melakukan itu dengan cara membawa analisisnya ke hal-hal yang terdapat di balik kontroversi sekitar pemberian ASI dan susu botol.

Untuk saya sendiri, sebagai seorang dokter medis dan ahli gizi yang menaruh perhatian terhadap kesehatan yang baik dan menu makanan yang memadai dan dengan bekal rasa keadilan serta kebersamaan dengan mereka yang hidup dalam cengkeraman kemiskinan, kadang-kadang terasa seakan-akan jalan ke depan ini seperti tak ada habis-habisnya. Mungkin saya merasa sedikit banyak mirip dengan mereka yang mengecat jembatan Golden Gate yang merentang di atas Teluk San Fransisco. Pada waktu para pengecat selesai dengan pekerjaan sampai pantai teluk sebelah utara, ternyata bagian jembatan di ujung selatan telah harus dicat kembali. Dalam hal ini Penny Van Esterik barangkali akan menganjurkan agar kita melangkah kembali untuk beberapa saat dan mengambil waktu untuk meneliti sebabsebab dari kondisi jembatan yang karatan, memeriksa kualitas cat yang telah dipakai, kemudian juga mendalami bentuk struktur dari jembatan yang besar dan indah itu sendiri, bahkan juga untuk memperhatikan lingkungan di mana jembatan itu berdiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here