Home Opini Membasmi Tikus dengan Rodensida

Membasmi Tikus dengan Rodensida

23
0
Pemberian zat kimia untuk mengawasi tikus
Pemberian zat kimia untuk mengawasi tikus

Pemberian zat kimia untuk mengawasi tikus, bermacam-macam, namun pada umumnya dibuat menjadi umpan, yakni ditambahkan pada bahan makanan yang disenangi tikus, sehingga tikus yang memakan bahan makanan tetsebut cikan keracunan.

Pemberian zat kimia dapat pula dilakukan dalam bentuk asap dan ini disebut fumigasi. Zat kimia yang biasa dipakai untuk fumigasi ini ialah Methyl bromida, carbon chlorida dan HCN. Pengawasan tikus dengan cara fumigasi dipandang arnat berhasil, apabi:la tikus tidak dapat mengmisalnya dengan jalan menyemprotkannya ke dalam sarang tikus.

3.            Secara biologis:

Yakni dengan mernehhara musuh-musuh tikus, seperti kucing, dan anjing. Cara ini tentu saja tidak efisien, terutama jika berhadapan dengan jumlah tikus yang banyak.

4.            Secara cultural:

Yakni berusaha mengubah kebiasaan hidup yang meng-untungkan tikus. Misalnya selalu menjaga kebersihan, tidak membiarkan sisa-sisa makanan berserakan, membuat rumah yang rapat, sehingga tidak mungkin tikus masuk (ratproof), atau menghilangkan tempat-tempat yang terlindung dan yang gelap, karena tempat seperti ini disenangi tikus untuk tempat tinggal atau bersembunyi.

Haruslah diingat bahwa dalam melakukan pengawasan ter-hadap tikus perhatian tidak boleh terbatas pada tikus itu saja, tetapi juga terhadap pijal yang mungkin hidup/menempel pada tubuh tikus. Karena telah sama diketahui bahwa pijal adalah jenis serangga yang dapat puln mendatangkan penyakit pada manusia. Untuk mengawasi pijal tikus biasanya digunakan bubuk DDT 10% yang ditaburkan pada daerah-daerah di mana diduga ada tikus. Diharapkan bubuk tersebut akan menempel pada tubuh tikus ketika ia melalui tempat tersebut, dan pijal yang menempel di tubuh nya akan mati. Pengawasan terhadap pijal tikus sering disebut ectoparasite control. Pengawasan terhadap pijal ini dianggap penting, karena jika pengawasan terhadap tikus saja yang dilakuk2n, maka setelah tikus mati, pijal akan meninggalkan bangkai tilats dan mencari manusia. Jika ia sempat menggigit ia menularktn penyakit yang dikandungnya.

Makanan diperlukan untuk kehidupan, karena dari makanan didapatkan energi (tenaga) yang diperlukan untuk melangsungkan pelbagai faal tubuh. Ilmu Kedokteran dan atau Kesehatan telah lama mengetahui bahwa antara makanan dan kesehatan terdapat hubungan yang erat. Seseorang yang memakan makanan yang tidak cukup mengandung gizi mudah terserang penyakit kekurangan gizi. Selanjutnya, telah diketahui pula bahwa bagi orangorang tertentu, ada jenis makanan yang tidak dapat dikonsumsinya, karena makanan tersebut akan mendatangkan penyakit alergis. Selanjutnya ilmu kedokteran dan atau kesehatan memperhatikan pula cara mengelola bahan makanan, karena jika cara mengelola tersebut salah, misalnya dimasak berlebihan, akan rusaklah beberapa zat yang terdapat dalam bahan makanan.

Kesemua hal yang menyangkut makanan ini, memang menjacli perhatian ilmu kedokteran dan atau kesehatan. Namun jika ditinjau dari ilmu kesehatan lingkungan, ternyata tidaklah terma suk bidang perhatiannya. Dari sudut ilmu kesehatan lingkungan per hatian terutama ditujukan pada hygiene dan sanitasi makanan ten;ebut, yakni bagaimana mengusahakan agar makanan tidak san ipai cemar atau tidak mengandung zat-zat yang dapat membah ayakan kehidupan.

Demildanlah dalam membicarakan tentang hygiene dan sanitasi makanan (food sanitation), maka permasalahan yang menyangkut nilai gizi kurang diperhatikan, demikian pula halnya yang menvangkut komposisi bahan makanan yang sesuai dengan ke-butul’un tubuh. Pembicaraan dalam sanitasi makanan lebih ditekan kan pada upaya membebaskan makanan dari zat-zat yang niembanayakan Keniciupan, atau mencegan agar bahan makana.n yang mengandung zat-zat yang membahayakan kehidupan tidak sampai dikonsumsi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here