Home Terkini Pemalsuan makanan demi keuntungan pribadi

Pemalsuan makanan demi keuntungan pribadi

24
0
Pemalsuan makanan demi keuntungan pribadi
Pemalsuan makanan demi keuntungan pribadi

Pada saat ini sering ditemukan pemalsuan makanan yang dilakukan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dengan motif utama adalah ekonomi. Pemalsuan yang hanya menyangkut merek dagang, yakni meniru barang-barang yang telah laku, tidak merupakan persoalan, sepanjang barang yang dipalsukan tersebut tidak membahayakan kesehatan.

Tetapi jika pemalsuan ini bertujuan menjual barang ataupun bahan makanan yang semestinya harus dibuang, tentu saja timbul pelbagai macam penyakit pada manusia. Adapun cara-cara pe-malsuan yang sering dilakukan ialah:

1.            Dengan menghilangkan bau, misalnya dilakukan pada ikan yang telah busuk, yakni dengan menambahkan zat cuka.

2.            Dengan memberikan kesegaran palsu pada bahan makanan yang telah busuk, misalnya menaburkan zat warna pada daging.

3.            Mengolah kembali tanpa mernperhatikan segl kesehatan, misalnya memasarkan kembali puntung rokok yang dipungut di jalan.

4.            Menambah zat kimia lain, misalnya menambah zat pati pada susu tepung untuk bayi, yang tentu saja merugikan bayi yang mempergunakannya.

Untuk mencegah jangan sampai beredar bahan makanan yang semestinya harus dibuang, maka di tiap negara biasanya ditetapkan peraturan yang mengatur persyaratan setiap bahan makanan. Di Indonesia pengawasan ini dilakukan oleh Direktorat Pengawasan Makanan dan Obat-obatan, Departemen Kesehatan. Pada umumnya suatu makanan dianggap tidak memenuhi syarat dan karena itu tidak boleh dipasarkan, jika:

1.            Makanan tersebut mengandung racun atau zat-zat lain yang membahayakan kesehatan.

2.            Kepada bahan makanan ditambahkan bahan-bahan lain yang bersifat racun atau membahayakan kesehatan, misalnya pada waktu penyimpanan makanan (pengawetan) pengolah-an rhakanan (diberi zat warna) atau penyajian (dimasukkan dalarn kaleng), di mana bahan kimia untuk pengawetan, zat warna yang dipakai serta kaleng yang dipergunakan tidak memenuhi syarat sehingga dapat membahayakan kesehatan.

3.            Bahan makanan tersebut telah rusak atau telah melampaui masa berlakunya (daluwarsa). Kerusakan bahan makanan dapat disebabkan karena digigit tikus dan lain sebagainya.

4.            Bahan makanan tersebut berasal dari hewan yang sedang menderita penyakit, atau telah mati karena sakit.

5.            Diketahui dalam mengelola bahan makanan tersebut tidak terpenuhi syarat hygiene dan sanitasi.

MAKANAN DALAM KALENG:

Pada saat ini dengan kemajuan teknologi dan perufaban manusia, banyak dibuat makanan dalam kaleng (canned food). Dalam kehidupan masyarakat yang telah terlah; sibuk (seperti di kota besar miaalnya), makanan dalam kaleng ini amat disenangi, karena sifatnya yang praktis sekali. Adapun macanY makanim dalam kaleng berbeda-beda, ada yang langsung bisa diraakan jadi telah diolah sebelumnya atau ada yang memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dimakan. Biasanya yang dimasukkan ke dalam kaleng untuk jenis kedua ini ialah bahan makanan yang telah diawetkan sebelumnya (ikan, daging, dan sebagainya).

Di negara adidaya, pengawasan terhadap makanan dalam kaleng ini dilakukan dengan ketat. Tidak saja yang menyangkut sanitasi ketika pembuatannya, tetapi juga yang menyangkut kwalitas dari makarxan tersebut. Di Amerika Serikat misalnya Departemen of Agriculture memberi tanda tertentu pada makanan dalam kaleng sesuai dengan kwalitasnya, sehingga dapat diketahui oleh konsumen.

Adapun kaleng yang dipergunakan biasanya dibuat dari kaleng yang dilapisi timah di bagian dalamnya, yang dapat men-cegah berubahnya warna bahan makanan, hanya sayangnya tidak begitu kuat sehingga sering bocor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here