Home Info Pemberian Susu kepada Anak Selalu Multi-Interpretasi

Pemberian Susu kepada Anak Selalu Multi-Interpretasi

20
0
Perubahan-perubahan dalam interpretasi pemberian susu kepada bayi
Perubahan-perubahan dalam interpretasi pemberian susu kepada bayi

Tetapi bagi para ahli antropologi masih terlalu pagi untuk melangkah jauh di balik kontroversi itu. Kita hanya perlu melangkah seeukupnya di balik persoalan itu sehingga mendapatkan sudut yang baik untuk menoleh ke belakang pada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada d2sawarsa terakhir (1975-1985) dengan perspektif yang lebih segar. Karena kontroversi sekitar susu bayi ini, atau kontroversi antara ASI-susu formula sesungguhnya bukanlah suatu sebab sepintas yang sempit; maka telah menyebabkan tim-bulnya pertanyaan yang amat luas dan sangat penting, mengungkapkan ke-prihatinan para ahli antropologi dan para ahli ilmu sosial lainnya; perta-nyaan-pertanyaan mengenai perkembangan yang terus berlanjut, kelang-sungan hidup bayi, dan kontradiksi-kontradiksi antara penelitian dan anjuran apa yang harus dilakukan. Walaupun boikot sudah dihentikan dan beberapa kelompok penganjur mungkin telah memilih persoalan-persoalan baru untuk mendapatkan perhatian umum, namun persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pemberian susu pada bayi sama sekali belum selesai, dan juga soal-soal yang mendasari kontroversi tersebut belum menjadi lebih sederhana. Tetapi suara-suara telah lebih tenang, sudah kurang sengit, karena sekarang sudah berkurang keinginan untuk meng-goncangkan atau mengubah pendirian orang lain. Di antara demikian banyak suara yang berbeda-beda, dihubungkan pada perbedaan-perbedaan dalam kekuasaan dan pengetahuan, terdapat dua suara, yang di. sini disebut sebagai “Uraian para penganjur” dan “Uraian para peneliti”. Populernya perkataan “Uraian” (discourse) dalam teori antropologi terutama bersumber dari karya-karya Foucault (1980), Bourdieu (1984) dan Geertz (1983). Sering istilah itu lebih banyak mengaburkan daripada menjelaskan.

Saya menggunakannya di sini karena istilah itu mengkombinasikan konsep-konsep pembicaraan dan pengolahan dari suatu hal secara lisan atau tulisan dengan tindakan-tindakan sehubungan dengan pengertian, pemikiran dan cara membalik-balik gagasan-gagasan dalam pikiran (0xford English Dictionary 1971: 430). Keheningan setelah kontroversi itu berakhir menjadi berita-berita utama dalam surat kabar, merupakan suatu pelajaran. Seakan-akan pelajaran-pelajaran yang didapat dari kontroversi itu hanya mengenai kekuasaan dan pemerasan dan bukan mengenai menyusui dan mengasuh bayi. Perihal laktasi atau menyusui bayi tidak mendapat tempat dalam laporan Komisi Dunia tentang Lingkungan dan Perkembangan (World Commission on Environment and Development) yang berjudul Our Common Future (“Hari Depan Kita Bersama”) (1987), walaupun perkembangan yang berkelanjutan, ekonomi internasional, kependudukan, sumber daya manusia, keamanan pangan, sumber energi dan indus tri soal-soal yang dibicarakan dalam laporan itu semuanya berhubungan dengan pilihan-pilihan pemberian susu pada bayi. Perihal menyusukan anak secara tak terduga juga tidak ada dalam penelitianpenelitian tentang kesehatan wanita. Indeks terperinci dalam karya For Her Own Good (“Untuk Kepentingan Wanita”), suatu nasehat para ahli selama 150 tahun kepada para ibu, yang disunting oleh Ehrenreich dan English (1979), tidak memuat tentang penyusuan (antara Marlon Brando dan Bride Magazine) atau laktasi (antara alat-alat rumah tangga untuk menghemat tenaga dan Ladies Home Journal). Artikel karya Emily Martin baru-baru ini, The Woman in the Body, tidak mempunyai indeks tulisan tentang penyusunan, laktasi, atau pemberian susu kepada bayi, walaupun proses-proses lain seperti menstruasi, melahirkan anak, dan menopause diuraikan secara rinci. Laktasi sebagai suatu proses dan susu ibu sebagai sumber lagi-lagi tidak terdapat dalam uraian-uraian penting mengenai perkembangan dan kesehatan wanita.

Yang menjadi dasar adanya kontroversi mengenai susu bayi buatan ialah perjuangan untuk menjelaskan mengenai perubahan dalam cara-cara pemberian susu kepada bayi. Perubahan ini bukanlah agar sama sekali menghentikan penyusuan bayi oleh ibunya, melainkan merupakan penambahan susu pengganti susu ibu yang tepat dan yang tidak tepat dan perubahan yang berhubungan dengan interpretasi tentang pemberian susu kepada bayi. Ahli-ahli kesehatan mencoba mendefinisikan perubahan-perubahan ini dengan meneliti kadar permulaannya, lamanya dan seringnya penyusuan bayi; ahli-ahli antropologi mungkin akan mencoba menerangkan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi. Perubahan dalam pola pemberian susu kepada bayi mencerminkan tiga macam perubahan: (1) perubahan dalam cara pemberian susu yaitu dari cara disusui oleh ibu menjadi diberikan susu botol; (2) perubahan dalam bahan yang diberikan (yaitu dari ASI menjadi bahan-bahan yang lain); (3) perubahan dalam interpretasi dari pemberian susu pada bayi.

Perubahan-perubahan dalam interpretasi pemberian susu kepada bayi sering termasuk perubahan dari suatu orientasi proses menjadi orientasi produk dengan perubahan hubungan sosial yang menyertainya. Modelmodel proses lebih menekankan kontinuitas kehamilan, kelahiran dan proses penyusuan daripada bahannya, air susu ibu. Menggunakan model biomedik dengan bukti ilmiahnya yang telah terkumpul tentang komposisi gizi dari ASI dan bahan pengganti ASI, merupakan model yang berorientasi pada bahan. Interpretasi produk sangat cocok dengan kebutuhan pasar yang sedang meluas akan bahan pengganti ASI. Perusahaan-perusahaan farmasi dan bahan makanan multinasional mendorong adanya perbandingan antara ASI dan hasil industri mereka. Menjadikan susu untuk bayi sebagai komoditi dan menjadikan pemberian makanan kepada anak sebagai suatu hal medis, akan mendorong terjadi hubungan-hubungan sosial jenis-jenis baru dan cara-cara pemikiran yang baru, tentang pemberian susu kepada bayi. Tujuan artikel ini bukanlah untuk membicarakan kembali kebaikan ASI atau memberikan bukti-bukti baru yang menyalahkan industri susu bayi buatan, tetapi untuk meletakkan kontroversi lebih langsung dalam hubungan dengan persoalan-persoalan tentang perkembangan yang dapat berlanjut terus-menerus, membuat para wanita lebih berwenang, melibatkan ilmu kedokteran dalam masalah pemberian makan kepada bayi dan menjadikan bahan makanan anak sebagai suatu komoditi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here