Home Opini Pertentangan Air Susu Ibu dan Susu Buatan Pabrik yang Pelik

Pertentangan Air Susu Ibu dan Susu Buatan Pabrik yang Pelik

16
0
Kontroversi ASI vs Susu Formula
Kontroversi ASI vs Susu Formula

Bahwa ASI merupakan makanan utama yang paling ideal memenuhi kebutuhan fisik dan psikologik bayi yang sedang dalam saat-saat dini tumbuh kembangnya, sudah diterima secara luas. Dan telah semakin banyak pula akhir-akhir dasawarsa ini artikel tentang `ASI’ itu sendiri, baik di negara maju maupun negara berkembang, termasuk Indonesia. Seperti misalnya yang menguraikan masalah ASI dengan aspek-aspek gizi, neoro endocrinologi, anatomi, fisiologi, psikologi dan lain-lain. Tetapi artikel ini membahas masalah pertentangan ASI-Susu 13otol yang terjadi pada ibu dan lingkungan sosial ekonomi budaya-kesehatan-industri yang lebih luas. Pembahasan dikelompokkan menjadi 4 tema penting: Lingkungan Miskin, Peningkatan Wewenang Kaum Wanita, Medikalisasi Pemberian Makanan Bayi dan Komoditisasi Makanan Bayi.

DENGAN memanjatkan puji syukur, BKPP-ASI (Badan Kerja Pe-ningkatan Penggunaan Air Susu Ibu) menyambut kehadiran artikel Penny Van Esterik dengan judul Beyond The Breast-Bottle Controversy, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Di balik Kontroversi ASISusu Formula.

Artikel ini menyajikan permasalahan ASI yang lebih luas disertai analisa, dan pendekatannya diuraikan secara rinci cermat dan ilmiah dari sudut pandang antropologi. Pembahasan ASI yang dikaitkan dalam konteks pembangunan menjadikan artikel ini bermanfaat bagi ilmuwan maupun policy maker bidang ekonomi, sosial, budaya, pembangunan, antropologi, industri makanan bayi, peranan wanita dp.n perorangan maupun masyarakat luas. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia akan lebih mempermudah dan memperluas lagi pembacanya.

Analisa dilengkapi dengan hasil studi kasus 4 wanita dalam lingkungan miskin di 4 negara yaitu Bogota di Kolombia, Nairobi di Kenya, Semarang di Indonesia, dan Bangkok di Thailand.

Menarik sekali dalam membahas peningkatan kewenangan kaum wanita yang menguraikan apakah bayi akan diberi ASI atau akan diberi susu botol, maka `ibu’ lah yang membuat keputusan. Ibu yang menguasai tu-buhnya sendiri, ibu pula yang merencanakan kemudian memutuskan memberikan AS I atau susu botol tersebut, selanj utnya ibu pula yang mengatur cara memberikannya. Maka ini semua tergantung pada faktor ibu, antara lain, keadaan fisik, pengetahuan, kemauan, kesibukan, peran ibu, keterbatasan ibu dan dukungan dari lingkungan ibu.

Juga menyadari bahwa dalam permasalahan ASI peningkatan kewe-nangan wanita menjadi faktor menentukan, maka BKPP-ASI, yang juga beranggotakan organisasi wanita selain profesi gizi, kesehatan dan lainlain, sejak berdirinya, dalam melaksanakan kegiatannya membantu program pemerintah, terutama bekerjasama dengan Kementerian Negara Urusan Peranan Wanita. Misalnya antara lain menyelenggarakan Konferensi Nasional ASI pada tanggal 23 Maret 1989, yang merupakan kerjasama juga dengan IBI (Ikatan Bidan Indonesia) dan PKK. Ini menghasilkan tindak lanjut antara lain kesepakatan program ASI di beberapa propinsi.

Penulisnya memakai istilah `Medikalisasi Makanan Bayi’ yang diurai-kan sebagai menjadikan permasalahan kehidupan yang biasa menjadi per-masalahan medik, maksudnya kekuasaan untuk memberi definisi, nama dan memberlakukan keadaan oleh ahli medik, bahwa pendapat ahli medik yang benar, pemakaian istilah kesehatan dan konsep kesehatan, lembaga kesehatan menjadi lebih menonjol dan seterusnya. Tetapi mungkin akan ada pertanyaan, bukanlah permasalahan makanan bayi lebih berkaitan langsung pada permasalahan kesehatan? Maka pemberian makanan bayi yang kurang tepat perlu diupayakan perbaikannya, meskipun telah menjadi kebiasaan kehidupan. Misalnya, pemberian susu formula secara rutin pada bayi yang baru lahir, pemberian makanan tambahan terlalu dini dan lain-lain.

Atau Medikalisasi Susu Botol/Susu Formula untuk Bayi memerlukan pula terutama upaya medik terhadap permasalahan ASI yang tentu secara menyeluruh dengan upaya lain-lainnya. Tetapi pembahasan medikalisasi makanan bayi tersebut membawa pembacanya ke arah sudut pandang lain terhadap permasalahan makanan bayi luas kompleks dan kait-mengkait.

Uraian Komoditas Makanan Bayi secara luas lebih membuat gamblang lagi bagaimana komoditisasi susu form ula dan komoditisasi botol susu yang dilakukan perusahaan multinasional dan lain-lainnya, hanya mementingkan keuntungan saja. Dan keadaan sedemikian masih berlangsung sampai saat ini, meskipun kita telah mempunyai Code Indonesia Susu Formula sejak tahun 1986 sebagai hasil dari WHO Code.

Penulisnya, yang juga seorang penganjur ASI, juga menguraikan kaitannya masalah ASI-susu botol dengan kesakitan, kematian dan kontak dini bayi. Maka pembahasan yang secara sistematis antropologis dari permasalahan ASI-susu botol yang beraneka ragam, kompleks dan kait-mengkait tersebut menjadi 4 permasalahan pokok kontroversi, memer-lukan pendekatan yang tidak sederhana, bukan hanya aspek kesehatannya atau permasalahan pada ibu saja, tetapi lebih luas lagi secara menyeluruh termasuk keadaan umum sosial budaya politis ekonomi yang semuanya mempengaruhi pengambilan keputusan para ibu.

Demikianlah artikel bermutu ini benar-benar menambah khasanah ba-caan ASI yang bermanfaat bagi kita semua, dan kita sambut dengan gem-bira kehadirannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here