Home Tips Susu Formula dan ASI, mana yang Lebih Baik?

Susu Formula dan ASI, mana yang Lebih Baik?

15
0
Kontroversi tentang susu buatan jarang dipandang sebagai bagian dari persoalan renewable SDA
Kontroversi tentang susu buatan jarang dipandang sebagai bagian dari persoalan renewable SDA

Kontradiksi yang muncul dari penjajaran uraian penganjur dan uraian penelitian terjadi secara bersamaan pada dua tingkat: pertama, pada tingkat pengertian dari keputusan tentang pemberian susu kepada bayi yang diambil oleh para ibu di banyak negara yang tengah berkembang, dan kedua, pada tingkat kontroversi itu sendiri. Misalnya, para ahli kesehatan mempengaruhi keputusan-keputusan para ibu tentang pemberian susu kepada bayi dan juga berperan atau secara potensial akan berperan dalam kontroversi ASI-susu formula itu. Hal ini merupakan suatu dilema khusus untukmenghubungkan pengetahuan tentang pemberian susu kepada bayi dengan aksi sosial tentang pemberian susu kepada bayi.

Hal-hal yang kompleks dan kontradiksi inilah yang menyarankan bahwa kontroversi tentang susu buatan ini sesungguhnya menyangkut banyak hal di samping masalah pemberian susu kepada bayi. Kontroversi itu tertanam dalam uraian lain yang terdapat di bawah permukaan, semuanya itu mempunyai agenda dan prioritasnya masing-masing. Artikel ini meneliti beberapa proses-proses tersebut dalam usaha untuk menemukan bagaimana caranya proses-proses itu mempengaruhi interpretasi dari kontroversi tentang susu buatan itu dan yang mengakibatkan aksi-aksi sosial kita (atau inaksi kita). Kontroversi ASI-susu formula juga melibatkan lingkungan melarat, peningkatan wewenang kaum wanita, menjadikan pemberian susu kepada bayi soal medis, dan menjadikan susu bayi sebagai suatu komoditi. Kontroversi dan aksi sosial yang ditimbulkannya tetap berjalan terus, tetapi banyak kegiatan, seperti memantau dan penulisan laporan, yang sekarang sudah lebih menjadi hal yang rutin. Sudah tiba waktunya untuk merenungkan bagaimana beberapa dari debat-debat yang lebih luas itu berhubungan dengan cara berbeda-beda dengan kontroversi itu. Dalam banyak hal, kontroversi itu merupakan contoh untuk memikirkan secara mendalam empat tema tersebut.

Lingkungan Miskin. Kontroversi tentang susu buatan jarang dipandang sebagai bagian dari persoalan sumber daya yang dapat diperbaharui dan keadaan lingkungan. Persoalan penggunaan sumber daya yang tepat sangat nyata pada rumah tangga dari penduduk kota yang miskin, karena di sana keadaan lingkungan mempengaruhi secara langsung penyakit dan kematian anak-anak. Rumah tangga-rumah tangga menghadapi persoalan persediaan air yang dipakai bersama, mahal, tidak bersih dan tak dapat diandalkan, bahan bakar yang mahal, lemari es yang sedikit dan persaingan untuk mendapatkan uang yang langka dan tidak teratur. Keadaan lingkungan dan kemiskinan abadi menentukan bagaimana para wanita menentukan prioritas untuk pemberian makan kepada bayi dan anak. Pemberian susu kepada bayi harus dipahami dalam hubungannya dengan lingkungan yang miskin itu. Keadaan lingkungan, oleh karena itu, menjadi kunci dalam memperbaiki kesehatan anak. Pola pemberian susu kepada bayi, yang seakan-akan merupakan pilihan pribadi atau ditentukan oleh kebiasaan kebudayaan, juga dapat berkaitan dengan lembaga-lembaga dari sistem dunia. Persoalan lingkungan meliputi kontroversi susu buatan itu. Pencemaran air, nitrosamine dalam puting susu dan dot kosong, pencemaran oleh bahan kimia dalam ASI, semuanya merupakan gejala keadaan lingkungan yang berubah, di negara maju maupun sedang berkembang. Dari segi lingkungan, kontroversi itu menimbulkan pertanyaan yang berikut ini: apakah akibat dari penggantian suatu sumber daya yang dapat diperbaharui dan yang sudah cocok dengan sumber daya yang tak dapat diperbaharui yang memerlukan ongkos tenaga yang tinggi dan yang menghasilkan terbuangnya produk, tenaga, uang dan nyawa?

Peningkatan Wewenang Kaum Wanita. Kekuasaan wanita atas kehidupan dan tubuhnya sendiri banyak pengaruhnya atas pilihan yang tersedia bagi mereka untuk memberikan susu kepada bayinya. Tersedianya makanan bagi bayi mereka, kebebasan dalam merencanakan dan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, dan sistem dukungan sosial, mempengaruhi bagaimana mereka mengatur pemberian air susu kepada bayi atau keputusan mereka untuk memberikan susu botol. Pada akhirnya, pilihan cara pemberian air susu kepada bayi berhubungan dengan sikap dan keadaan para wanita, secara ideologis dan ekonomis, dalam masyarakat yang berbeda-beda.

Pada tingkat kontroversi itu, menarik perhatian dan mengherankan bahwa ditemukan betapa tidak konsistennya sikap feminis terhadap kontroversi susu buatan untuk bayi itu. Penelitian terhadap uraian-uraian kaum feminis yang konservatif, liberal, radikal dan sosialis, membantu menerangkan kontradiksi dan koalisi aneh yang terbentuk selama berlangsungnya kontroversi itu. Pendapat para penganjur lebih banyak didukung oleh para wanita secara pribadi daripada oleh kelompok-kelompok wanita. Tetapi “pidato-pidato kaum feminis” membantu perusahaanperusahaan pembuat susu bayi buatan dengan baik, dengan mempromosikan pemberian susu botol kepada bayi di negara-negara maju maupun yang sedang berkembang (“pembebasan dalam sebuah kaleng”). Walaupun uraian-uraian kaum feminis Barat jarang mencukupi di negara dunia ketiga, namun penting untuk memahami bagaimana kelompok-kelompok wanita dan kelompok-kelompok feminis di berbagai negara memberi definisi tentang persoalan-persoalan yang bersangkutan dengan pemberian susu kepada bayi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here