Home Info Upaya NESTLE dalam Memperbaiki Citra Publik

Upaya NESTLE dalam Memperbaiki Citra Publik

23
0
Bagaimana Nestle Berupaya Memperbaiki Citra Publik Mereka
Bagaimana Nestle Berupaya Memperbaiki Citra Publik Mereka

Daya upaya Nestle dipusatkan untuk mencoba memperbaiki citra publik mereka yang telah ternoda dengan menyewa sebuah perusahaan hubungan masyarakat terkenal, mengirim kepada para pendeta penerbitan-penerbitan luks mengenai sumbangan perusahaan untuk kesehatan bayi, dan pada umumnya menyalahkan para pengritiknya hanya sebagai lawan-lawan yang tidak mengetahui tentang sistem perusahaan bebas (Chetley 1986: 46,53). Sementara itu, kampanye INFACT melawan promosi susu bayi buatan, yang dimulai tahun 1977, sangat berhasil. Di Toronto, misalnya, suatu perusahaan penelitian pasaran menemukan bahwa 10 persen dari penduduk kota itu, yang berjumlah dua juta orang, telah memboikot produkproduk Nestle (INFACT Kanada, Februari 1982). Dewan Kota Toronto tidak hanya menyetujui boikot itu tetapi mendesak supaya produk-produk Nestle disingkirkan dari semua gedung umum.

Kesempatan dengar pendapat di kongres yang diketuai oleh Edward Kennedy tentang pemasaran dan promosi dari susu buatan di negara-negara berkembang dalam tahun 1978, merupakan sebuah titik perhatian lagi bagi usaha-usaha Amerika. Pada waktu dengar pendapat itu, Ballarin, seorang manajer dari eksploitasi Nestle di Brasil, menyatakan hal yang mengherankan mereka yang menghadiri rapat, bahwa boikot dan kampanye melawan perusahaan pembuat susu bayi buatan itu sesungguhnya merupakan serangan terhadap sistem ekonomi dunia bebas “yang dipimpin oleh” sebuah organisasi gereja sedunia dengan tujuan merusak sistem perusahaan bebas (United States Congress 1978: 127). Sekitar tahun 1979 usaha yang tiada henti-hentinya dari para dokter seperti Jelliffe, Latham, dan Hillman untuk menarik perhatian organisasi-organisasi kesehatan pada persoalan itu, bersama dengan usaha-usaha publik dari kelompokkelompok penganjur, meyakinkan WHO bahwa suatu undang-undang untuk mengatur pemasaran dari susu bayi itu harus dibuat. Tak perlu diragukan bahwa penyiaran dan tekanan umum yang dihasilkan oleh kelompok-ke-lompok penganjur melalui boikot terhadap Nestle itu merupakan faktor utama yang mengakibatkan terselenggaranya rapatrapat dari WHO/UNICEF dalam tahun 1979, yang menghasilkan peraturan WHO tentang pemasaran Susu Pengganti Air Susu Ibu di tahun 1981. Pada bulan Mei 1981, World Helath Assembly menerima sebuah rekomen-dasi tidak mengikat dalam bentuk Peraturan Pemasaran Susu Pengganti Air Susu Ibu, dengan 118 suara setuju dan 3 suara abstain, dan Amerika Serikat satu-satunya suara yang menentang. Peraturan ini menyerukan kepada perusahaan-perusahaan pembuat susu bayi buatan untuk menghentikan iklan secara besar-besaran dan pemasaran langsung kepada para ibu, untuk mengakhiri pemberian contoh-contoh gratis dan hadiah-hadiah kepada para ibu, menghentikan penggunaan perawat-perawat dan fasilitasfasilitas kesehatan untuk mempromosikan susu pengganti ASI, untuk mengakhiri memberikan hadiah dan perangsang-perangsang kepada para pengecer dan ahli kesehatan, dan untuk memperbaiki pemberian label produkproduk mereka, termasuk agar merinci kebaikan dari ASL Menyusul dikeluarkannya peraturan itu, Nestle mengeluarkan instruksi khusus kepada pegawai pemasarannya untuk mematuhi peraturan WHO itu dan meminta agar INFACT menghentikan boikot. Tetapi boikot itu terus berlangsung sampai 1984, karena INFACT merasa perlu untuk mengadakan sarana memo-nitor ketaatan perusahaan kepada peraturan itu dan supaya anggota-anggota WHO membuat peraturan-peraturan nasional mereka.

Untuk segala ucapan retorik dan taktik-taktik yang disebut sebagai taktik-taktik konfrontasi mereka, kelompok-kelompok penganjur pantas mendapat pujian sehingga dapat melaksanakan apa yang tidak dapat dicapai oleh observasi klinik yang telah dilakukan berpuluh tahun: kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai penyalahgunaan susu bayi buatan di negara-negara yang sedang berkembang. Untuk pertama kalinya, lembagalembaga swadaya masyarakat seperti INFACT dan ICCR memainkan peranan langsung dalam pembicaraan-pembicaraan di WHO dan UNICEF pada tahun 1979, dan suara mereka didengar dalam rapat-rapat selanjutnya mengenai kebijaksanaan pemberian susu kepada bayi. Chetley menyatakan bahwa walaupun terdapat kekhawatiran di kalangan industri mengenai “integritas ilmiah” dengan mengirimkan organisasi-organisasi rakyat dan kelompok-kelompok konsumen untuk ikut serta, delegasidelegasi pada rapat internasional itu terkesan oleh sumbangan dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat (1986: 65-69). Kelompok-kelompok penganjur mengubah sejumlah dokter menjadi penganjur masyarakat yang berterus terang untuk memberikan ASI kepada bayi, mendorong suatu konsensus medis tentang nilai memberikan air susu ibu kepada bayi. Kelompok-kelompok seperti IBFAN dan INFACT yang terus menghidupkan kesadaran yang merupakan dasar perhatian terhadap tanggung jawab perusahaan, hak-hak manusia dan penyusuan bayi oleh ibu sebagai suatu persoalan keadilan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here